BI Sinyalkan Pemangkasan Bunga Acuan Kembali




JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memberikan sinyal, pemangkasan bunga acuan , BI Rate, akan berlanjut. Pemangkasan BI Rate dimungkinkan oleh melambatnya laju inflasi. "Kami melihat masih ada ruang untuk penurunan BI Rate," ujar Deputi Gubernur Senior BI Miranda Swaray Goeltom, Kamis (14/5).

Pernyataan itu disampaikan Miranda di depan Komisi XI, DPR. Miranda, Deputi Gubernur BI Muliaman Hadad, serta Menteri Keuangan Sri Mulyani semula dijadwalkan menghadiri rapat kerja dengan anggota Komisi XI DPR membahas bunga kredit. Belakangan, anggota DPR membatalkan rapat karena Gubernur BI Boediono tidak hadir.

BI Rate telah rontok sebesar 2,25% sejak Desember 2008 hingga Mei 2009. BI memangkas bunga acuan sebagai pertanda baiknya kondisi ekonomi Indonesia. Namun penurunan bunga acuan itu tak bergaung kencang. Perbankan lelet menanggapi rontoknya bunga acuan. Sebab, bankir menggunting bunga simpanan terlebih dulu, baru memotong bunga kredit.

BI akhirnya mengumpulkan bankir dan menghimbau mereka agar menurunkan suku bunga. "Kami sudah mendengarkan kesulitan bank-bank sehingga mereka sulit menurunkan suku bunga kreditnya," ujar Miranda.

Situasi likuiditas beda

Perbankan bisa jadi tak lagi menggubris sinyalemen bahwa tren penurunan bunga acuan bakal berlanjut. Apalagi, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memilih menyetop penurunan bunga penjaminan. Suku bunga wajar simpanan rupiah maksimal masih 7,75% sedangkan untuk simpanan valas 2,75%.

Bunga penjaminan ini yang biasanya menjadi acuan bunga simpanan bank. Jika bunga penjaminan tak lagi turun tentu biaya pendanaan bank tak berubah. Alhasil bank tak akan menurunkan bunga kredit.

Memang, bunga penjaminan LPS bukan satu-satunya pegangan bankir dalam menentukan bunga simpanan. Bank juga melihat persaingan meraih dana dalam penentuan bunga. "Bunga bisa dipastikan akan turun kalau likuiditas membanjir," ujar Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja.

Senada, Direktur Konsumer dan Ritel PT Bank Mega Kostaman Thayib mengatakan kebijakan bunga mengacu pada persaingan pasar. "Bank tidak mau terlihat bodoh dengan menurunkan bunga simpanan sendirian. Nasabah bisa kabur ke bank lain yang masih menawarkan bunga lebih tinggi," ujarnya.

Sejak akhir tahun lalu, bank sangat tergantung pada dana masyarakat. Sebab Pasar Uang Antarbank (PUAB) tak berfungsi normal sebagai sumber pendanaan.

PUAB tak berfungsi normal karena para bankir tidak saling percaya. Bank yang kelebihan likuiditas ragu-ragu meminjamkan dana kepada bank yang membutuhkan. BI biasa menyebut situasi ini sebagai pasar yang tersegmentasi.

Direktur Bisnis PT Bank UOB Buana Safrullah Hadi Saleh menambahkan, bank pasti akan menurunkan bunganya. "Kalau sudah mengamankan likuiditas," ujarnya.

Hanya saja, penurunan bunga tak mungkin berlangsung serentak. "Situasi likuiditas di tiap-tiap bank tidak sama," ujar Safrullah.



Wahyu Tri Rahmawati, Dyah Megasari KONTAN