Mahasiswa, Penelitian, dan Pengembangan Ekonomi Islam

Fossei.org (jogja 18/01/08) -Mahasiswa sebagai agen perubahan, begitulah identitas yang selayaknya terus mengakar dalam diri mahasiswa. Mereka ada untuk menjadikan perubahan. Mereka ada untuk memberikan perbaikan. Mereka ada untuk masyarakat yang sejahtera secara adil dan merata, serta untuk Indonesia yang lebih baik. Namun pertanyaan kita sekarang, sejauh mana mahasiswa kita saat ini bisa membawa semua itu menuju cita-cita dan tujuan bangsa tersebut? Bahasa mudahnya, ”Mahasiswa bisa ngapain?”

Peran dan kontribusi mahasiswa secara riil untuk mengubah dan memberikan perbaikan dalam masyarakat, selalu diharapkan dan dinantikan. Harapan terhadap mahasiswa adalah harapan jangka panjang dan bervisi. Harapan masa depan bangsa, harapan masa depan Indonesia. Dan di pundak mereka pula terdapat harapan masyarakat, terutama oleh masyarakat kecil yang semakin kecil dan sulit bernapas di tengah himpitan keadaan saat ini.

Sebagai orang-orang yang memiliki ”derajat” lebih tinggi dibandingkan yang lainnya, mahasiswa mengemban tanggung jawab yang lebih. Sebagai golongan intelektual yang mapan, tanggung jawab mereka berbeda dengan tanggung jawab dan harapan kepada seorang anak SMA, anak SMP, apalagi anak SD, bahkan golongan masyarakat lainnya. Mereka memiliki potensi dan kesempatan yang lebih besar untuk mewujudkan harapan tersebut. Ide-ide segar dan pemikiran konstruktif mahasiswa, pembelajaran mereka menuju kedewasaan, dan sikap positif yang selalu mereka hadirkan, adalah cita-cita masyarakat terhadap bentuk ideal mahasiswa Indonesia yang sulit dimiliki oelh orang lain. Mahasiswa yang sejatinya mahasiswa, bukanlah mahasiswa yang semakin menyusahkan kehidupan bangsa ke depannya nanti. Apakah mahasiswa kita saat ini telah sadar dengan itu semua? Apakah mahasiswa kita menyadari harapan terhadap mereka?

Di dalam benak dan cita-cita masyarakat, mahasiswa adalah solusi. Solusi bagi keadaan masyarakat yang semakin tidak mengenakkan dengan begitu banyak permasalahan di dalamnya. Atau paling tidak, mahasiswa menjadi orang pertama yang menggerakkan untuk segera menyelesaikan permasalahan. Mereka lah sang inovator dan inisiator.

Ketika kita kembali menengok permasalahan masyarakat Indonesia saat ini, yang terbayang dalam pikiran kita adalah pengangguran, kemiskinan dan kesenjangan di masyarakat yang terus meningkat. Masyarakat kecil semakin terasa semakin berat melanjutkan hidup di saat harga-harga kebutuhan pokok mereka jauh melambung tinggi sementara penghasilan mereka semakin tidak pasti. Sepertinya kita tidak bisa lagi membayangkan istilah kesejahteraan dan keadilan di masyarakat seperti yang dicita-citakan bangsa Indonesia, hadir di depan kita. Sangatlah jauh yang terjadi. Bagaimana mahasiswa kita melihat keadaan ini semua?

Keadaan ekonomi masyarakat yang semakin memprihatinkan ini, sedikit demi sedikit telah mulai ditemukan akar permasalahannya. Sekarang ini telah banyak bukti nyata yang semakin meyakinkan bahwa sistem ekonomi yang lama bersemayam dalam keseharian kita ternyata bukanlah sistem ekonomi yang tepat. Bukanlah sistem ekonomi yang adil seperti yang didambakan. Kesenjangan yang terjadi, kemiskinan yang menjadi-jadi, dan masalah-masalah ekonomi lainnya yang mendera masyarakat kita semuanya berawal dari penerapan sistem yang salah tersebut. Sistem yang kata orang adalah sistem ”tanpa nilai” ini, kini mulai menunjukkan kebobrokannya. Dan pertanyaan yang terus menggelayuti pikiran kita saat ini, ” Lalu ekonomi apa yang paling tepat?”

Ekonomi Islam, adalah jawaban dari semua permasalahan ini. Begitulah keyakinan yang hadir di tengah-tengah kebingungan masyarakat saat ini dalam menemukan sistem ekonomi apa yang tepat diterapkan. Ekonomi Islam dengan nilai-nilai yang mendasarinya, merupakan ekonomi yang paling dekat dengan keseimbangan dan keadilan. Dengan nilai-nilai yang ada di dalam Ekonomi Islam, secara rasional kita semakin yakin bahwa kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh seperti yang didambakan akan tercapai. Namun permasalahannya sekarang, apakah Ekonomi Islam yang kita kenal sekarang sudah benar-benar menunjukkan nilai-nilainya? Apakah aplikasinya bagi kesejahteraan sudah dengan tepat bisa kita terjemahkan di masyarakat?

Ekonomi Islam yang kita kenal sekarang, belumnya menunjukkan ekonomi yang solutif dan ideal. Karena itulah Ekonomi Islam perlu terus dikembangkan untuk menjawab setiap permasalahan yang ada. Pertanyaan selanjutnya, siapa yang harus mengembangkannya? Apa yang bisa diperankan oleh mahasiswa?

Banyak pihak saat ini telah mencoba mengembangkannya. Usaha pun dilakukan semua elemen masyarakat, mulai dari swasta sampai pemerintah. Namun yang terpenting dalam pengembangannya, Ekonomi Islam tidak bisa dilepaskan dari peran seorang mahasiswa sebagai agen perubahan yang netral dan tidak membawa kepentingan tertentu. Dibutuhkan sosok mahasiswa yang kritis dan peduli dengan keberadaan Ekonomi Islam dan mau untuk mengembangkannya.

Mahasiswa sebagai intelektual muda bangsa, besar kontribusinya dengan pengkajian yang lebih masif dan komprehensif tentang keilmu anEkonomi Islam. Dan satu lagi peran yang terlupakan dari seorang mahasiswa dan selama ini dinomor duakan adalah, pengembangan keilmuan Ekonomi Islam melaui penelitian-penelitian yang bisa terus mereka lakukan untuk pengujian dan pembuktian bagaimana aplikasi yang paling tepat untuk masyarakat.

Karena itulah, untuk lebih membuka wacana tentang keadaan ekonomi yang sedang terjadi serta hubungannya dengan Ekonomi Islam, kemudian mendorong usaha pengembangan Ekonomi Islam yang lebih terfokus sesuai dengan peran setiap eleman yang optimal, Shariah Economics Forum Universitas Gadjah Mada (SEF UGM) dan Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam (FoSSEI) akan mengadakan serangkaian kegiatan pada 9-12 Februari 2008, yaitu Temu Ilmiah Nasional (Temilnas) VII FoSSEI, Workshop Penelitian Ekonomi Islam, dan Launching Jurnal Muamalah SEF UGM dan digabung dengan kegiatan Festival Ekonomi Syariah yang diadakan Bank Indonesia.

Temu Ilmiah Nasional merupakan agenda tahunan FoSSEI dan merupakan agenda terbesar Ekonomi Islam di tingkatan mahasiswa, yang bertujuan untuk terus menggali dan mengembangkan potensi mahasiswa dalam keilmuan Ekonomi Islam melalui kegiatan lomba dan pelatihan, antara lain: Lomba Karya Tulis Ekonomi Islam (LKTEI), Olimpiade Ekonomi Islam, National Training for Trainers (NTT), dan Achievement Motivation training (AMT).

Workshop Penelitian Ekonomi Islam dan penerbitan Jurnal Muamalah SEF UGM merupakan inovasi baru dari Temilnas kali ini, berbeda dengan kegiatan Temilnas yang sudah-sudah. Kegiatan ini bertujuan mendorong penelitian, pengkajian, dan penulisan yang lebih baik secara kualitas dan kuantitas sebagai salah satu kebutuhan utama bagi pengembangan Ekonomi Islam, sebagai kontribusi penting yang bisa diberikan mahasiwa.

Diharapkan kegiatan-kegiatan tersebut mampu memberikan masukan serta kontribusi nyata bagi para pengambil kebijakan baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat luas, meningkatkan peran aktif mahasiswa dalam pengembangan Ekonomi Islam, dan yang tidak kalah pentingnya yaitu menjadi sarana sosialisasi dan menunjukkan eksistensi Ekonomi Islam di masyarakat. Inti dari semuanya, mahasiswa bisa selalu memberikan kontribusi bagi perkembangan Ekonomi Islam.

Aditya Rangga Yoga

Ketua Pelaksana TEMILNAS

PASAR PERSPEKTIF RASULULLAH


Segera setelah mukim di Madinah, Rasul SAW, menciptakan dua hal: masjid dan pasar. Kata Rasul SAW pasar merupakan tempat yang harus dapat diakses bebas oleh semua orang tanpa ada pembagian, tidak ada pajak, retribusi, atau bahkan uang sewa. Berikut adalah rule of the game-nya.

Pasar serupa dengan masjid.

Rasul SAW bersabda: pasar mengikuti sunnah masjid: siapa dapat tempat duluan berhak duduk sampai dia bediri dan kembali ke rumah atau menyelesaikan perdagangannya (Al Hindi, Kanz al Ummal, V 488 no 2688).

Adalah sadaqah tanpa ada kepemilikan pribadi.

Ibrahim ibnu Mundhir al Hizami meriwayatkan dari Abdullah ibn Ja’far bahwa Muhamad ibn Abdullah ibn Hasan mengatakan, “Rasul SAW memberi kaum Muslimin pasar sebagai sedekah” (Saba K, Tarikh Al Madinah Al Munawarah, 304).

Tanpa panarikan uang sewa.

Ibnu Zabala meriwayatkan dari Khalid ibnu Ilyas al Adawi, “Surat Umar ibnu Abdul Azis dibacakan kepada kami di Madinah, yang menyatakan bahwa pasar adalah sedekah dan tidak boleh ada sewa (kira) kepada siapa pun.( As-Samhudi, Wafa al Wafa,749).

Tanpa penarikan pajak.

Ibrahim al Mundhir meriwayatkan dari Ishaq ibn Ja’far ibn Muhamad dari Abdullah ibn Ja’far ibn al Miswat, dari Syuraih ibn Abdullah ibn Abi Namir bahwa Ata ibn Yasar mengatakan, “Ketika Rasul SAW ingin membuat sebuah pasar di Madinah, beliau pergi ke pasar Bani Qainuqa dan kemudian mendatangi pasar Madinah, menjejakkan kaki ke tanah dan bersabda, ‘Inilah pasar kalian. Jangan membiarkannya berkurang (la yudayyaq) dan jangan biarkan pajak apa pun (kharaj) dikenakan’”. (Ibnu Saba K Tarikh Al Madinah Al Munawarah, 304).

Di sana tidak ada pesan atau klaim tempat.

Ibnu Zabala meriwayatkan dari Hatim ibn Ismail bahwa Habib mengatakan bahwa Umar Ibn Khattab (pernah) melewati Gerbang Ma’mar di pasar dan (melihat) sebuah kendi di dekat gerbang dan dia perintahkan untuk mengambilnya…Umar melarang orang meletakkan batu pada tempat tertentu atau membuat klaim atasnya. (As-Samhudi, Wafa al Wafa,749).

Dan di sana tidak boleh dibangun toko-toko.

Ibnu Shabba meriwayatkan dari Salih ibn Kaysan….bahwa…Rasulullah SAW bersabda “Inilah pasar kalian, jangan membuat bangunan apa pun dengan batu (la tatahajjaru) di atasnya dan jangan biarkan pajak (kharaj) dikenakan atasnya.” (As-Samhudi, Wafa al Wafa,747-8).

Abu Rijal meriwayatkan dari Israil, dari Ziyad ibn Fayyad, dari seorang syekh Madinah bahwa Umar ibn Khattab ra melihat sebuah toko (dukkan) yang baru dibangun oleh seseorang di pasar dan Umar merobohkannya. (Ibnu Saba K Tarikh Al Madinah Al Munawarah, 750).

Demikianlah sejumlah panduan dari Rasul SAW dan para Sahabat tentang aturan main dalam pasar, hasil riset Prof. Umar I. Vadillo, seorang alim dari Spanyol, yang dimuat sabagai bab ‘Tijara’ dalam kitab Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi, Sultaniyya.

Adakah pasar yang sesuai sunnah Rasul di sekitar kita kini? Herankah kita melihat para pedagang dikejar-kejar polisi pamong praja di jalanan? Tidakkah menyediakan sarana umum, apalagi pasar, tempat setiap orang mencari rezeki adalah sebagus-bagusnya sedekah? Maka, bukankah seutama-utamanya wakaf untuk saat ini, tak salah lagi adalah membangun pasar yang sesuai dengan aturan Rasul SAW di atas?

______**********______

5 Kiat Sukses Bisnis dari 50 Pengusaha Sukses



Dr. Rhenald Kasali dalam kata pengantar buku 50 Usahawan Tahan Banting, Kiat Sukses di Masa Krisis menyarikan kiat sukses bisnis mereka dengan 5 kunci sukses standar yang khas:

(1) Reputasi dulu. Caranya? Bangunlah nama baik, keahlian, kepercayaan, kualitas dan harga diri. Begitu Anda dikenal dalam bidang usaha Anda, uang akan datang mengejar Anda.

(2) Tumbuh dari bawah. Binis yang baik tidak pernah tiba-tiba besar. Hampir semua pengusaha sukses, merintis usahanya dari bawah hinga mencapai sukses.

(3) Konsentrasi di bidang yang dikuasai. Penguasaan bidang menjadi syarat mutlak untuk maju. Belum pernah terdengar kisah sukses pengusaha yang berada dalam bidang yang tidak dikuasainya sama sekali.

(4) Anti kerumunan. Bisnis yang diawali dengan mengkopi sukses orang lain dan masuk dalam kerumunan sangat berbahaya. Dalam kerumunan akan sulit bernafas, bahkan sulit keluar dengan mulus. Kemungkinan babak belur sangat besar.

(5) Modal hanyalah pelengkap. Dalam berbisnis, modal uang jelas bukanlah segala-segalanya. Keahlian, jaringan, nama baik, penguasan teknologi, pengetahuan mengenai pasar adalah modal yang sama pentingnya dengan uang.

Seorang Muslim Sejati dengan Mimpi Besar Sukses Sejati Dunia Akhirat-nya sudah semestinya memiliki dan menjaga reputasi diri dan bisnisnya agar selalu kafa’ah (cakap dan ahli), himmah (etos kerja tinggi) dan amanah (terpercaya). Karena ini sesungguhnya adalah implementasi dari keimanannya.

Dengan tiga reputasi ini, ia akan konsentrasi di bidang yang dikuasai dan menumbuhkan usahanya dari bawah dengan orientasi profit, tumbuh, sinambung dan berkah. Ia juga akan berupaya sungguh-sungguh untuk tidak mengekor dalam kerumunan, namun dengan kesungguhan, kreativitas dan improvisasi tiada henti boleh jadi ia yang akan dikerumuni. Dan, tentu saja, ia akan menjadikan segala sumberdaya yang melekat pada dirinya sebagai modal yang melengkapi modal awal yang telah ia miliki, yaitu reputasi. Catatannya lagi, semua yang ia lakukan adalah dalam kerangka meraih bisnis yang penuh ‘berkat’ dan berkah, karena sukses yang ingin ia raih adalah sukses sejati dunia akhirat. Insya Allah.

SEMOGA BERMANFAAT

AYO....BERSAMA BERBUAT TERBAIK TUK KEBAIKAN BERSAMA

Dikutip dari buku:
Menggagas Bisnis Islami, M. Ismail Yusanto & M. Karebet Widjajakusuma, Gema Insani